Cerpen : Nasi Goreng Buatan Bapak


Bau bawang putih yang digoreng memenuhi udara, meresap ke setiap sudut rumah. Aku terbangun, mencium aroma yang tidak asing lagi. Nasi goreng. Ya, pagi ini pasti Bapak yang memasak. Setiap kali Bapak libur kerja, itulah yang beliau lakukan—memasak nasi goreng untuk sarapan. Masakannya sederhana, hanya nasi, telur, dan sedikit kecap. Tapi ada sesuatu dalam nasi goreng buatan Bapak yang selalu berbeda, selalu istimewa.

Aku berjalan ke dapur, dan di sana Bapak sudah berdiri di depan kompor dengan wajah penuh konsentrasi. “Udah bangun!?” sapanya hangat sambil membalik nasi di wajan dengan gerakan yang sudah lihai.

“Iya Pak. Masak nasi goreng lagi ya?” tanyaku, tersenyum sambil duduk di meja makan.

Bapak tersenyum lebar, “Iya, kesukaanmu kan? Bapak tau kamu pasti kangen.”

Aku menatap Bapak yang usianya sudah semakin lanjut. Wajahnya sudah mulai menua, ada garis-garis halus di sekitar mata, dan rambutnya yang dulu hitam pekat kini mulai beruban. Namun, senyumnya tetap sama—senyum yang selalu membuat rumah terasa hangat.

Bapak selalu bangun lebih awal, mempersiapkan sarapan untuk kami, bahkan setelah Ibu meninggal beberapa tahun lalu. Sejak saat itu, rutinitas Bapak berubah; ia tidak lagi sibuk dengan pekerjaannya, melainkan dengan menjaga rumah, memasak, dan merawat kami—aku dan adikku, Rani.

Aku selalu merasa ada sesuatu yang hilang dari nasi goreng Bapak setelah Ibu tiada, meskipun rasanya tetap enak. Mungkin karena dulu Ibu selalu ada, duduk di meja, menemani sambil bercerita tentang rencana hari itu. Kehangatan mereka berdua yang bercanda ringan, membuat rumah kami hidup.

“Nanti jangan lupa bangunkan Rani ya, sarapannya hampir siap,” kata Bapak sambil mematikan kompor. Ia mulai menyendok nasi ke piring, menambahkan taburan bawang goreng di atasnya.

Aku mengangguk dan berdiri, berjalan menuju kamar adikku. Rani masih tertidur lelap, wajahnya damai. Aku tahu ia pasti lelah dengan tugas-tugas sekolah yang semakin menumpuk. Perlahan, aku menggerakkan tubuhnya. “Ran, bangun. Nasi goreng Bapak udah siap.”

Rani membuka matanya dengan malas, tapi senyum tipis muncul di wajahnya begitu mendengar kata “nasi goreng.” Ia memang selalu suka sarapan buatan Bapak, seperti aku.

Kami duduk bersama di meja makan, menikmati nasi goreng buatan Bapak. Satu suap demi satu suap, rasa hangat dari nasi, sedikit manis dari kecap, dan tekstur renyah bawang goreng membawa kembali kenangan tentang Ibu. Suasana ini, makan bersama dengan Bapak yang bercerita tentang masa mudanya, membuatku tersadar bahwa kebahagiaan itu bukan datang dari hal-hal besar, melainkan dari momen-momen kecil yang kita lewatkan sehari-hari.

“Besok Bapak libur lagi, mau dimasakin apa?” tanya Bapak tiba-tiba, memecah keheningan.

Aku dan Rani saling bertatapan. “Nasi goreng aja, Pak,” jawab kami hampir bersamaan. Bapak tertawa.

“Wah, kalau setiap hari masak nasi goreng, kalian bisa bosan nanti,” gurau Bapak, namun di balik tawanya, aku tahu ada kesedihan yang beliau simpan sendiri. Mungkin karena setiap piring nasi goreng yang dimasak selalu mengingatkan Bapak pada masa-masa saat kami masih lengkap—saat Ibu masih ada.

Tapi Bapak selalu mencoba mengisi kekosongan itu dengan caranya sendiri. Dengan nasi goreng buatan tangannya, ia menyatukan kami kembali dalam satu meja, dalam satu kehangatan yang dulu pernah kami nikmati bersama Ibu. Dan meskipun rasanya tak lagi sama, ada sesuatu yang tetap bertahan—cinta dan perhatian yang terselip dalam setiap suapan, dalam setiap piring nasi goreng buatan Bapak.

Makan pagi itu selesai dengan cerita-cerita ringan, dan aku tahu bahwa kami akan baik-baik saja. Selama masih ada Bapak dan nasi gorengnya, rumah ini akan selalu terasa hangat.

Postingan Populer