Cerpen : Suara di Balik Jendela
~Blizeveer
Di sebuah desa kecil yang terletak di kaki gunung, tinggallah seorang perempuan bernama Siti. Ia tinggal sendirian di rumah kayu tua yang ditinggalkan oleh orang tuanya. Di desa itu, Siti dikenal sebagai perempuan yang tenang dan jarang berbicara. Ia lebih sering menghabiskan waktu di rumah, menenun kain dan menatap keluar jendela ke arah jalan yang sepi.
Setiap sore, Siti duduk di dekat jendela kayu yang menghadap ke arah kebun sayur milik tetangganya, Pak Darto. Jalan setapak di depan rumahnya sering dilalui orang-orang desa yang pulang dari kebun atau ladang, tapi tak banyak yang berhenti untuk sekadar menyapa. Namun, Siti tak merasa kesepian. Ada sesuatu di balik kesendiriannya yang justru memberinya ketenangan.
Suatu hari, saat Siti sedang asyik menenun di dekat jendela, ia mendengar suara dari luar. "Siti..." panggil suara itu pelan, terdengar seperti seseorang yang berdiri tepat di luar jendela.
Siti tersentak. Ia menoleh, tapi tak melihat siapa pun di luar. Jantungnya berdegup kencang. Siapa yang memanggilnya? Ia tahu pasti suara itu tidak berasal dari tetangganya. "Apa mungkin aku hanya berhalusinasi?" pikir Siti sambil menenangkan diri.
Keesokan harinya, suara itu muncul lagi. Kali ini lebih jelas. "Siti... di sini." Suaranya lembut, tapi ada sesuatu yang aneh—seperti panggilan dari masa lalu.
Siti memutuskan untuk keluar rumah, mencari siapa yang terus memanggil namanya. Ia berjalan perlahan mengelilingi rumahnya, melihat ke setiap sudut, tapi tak ada siapa pun di sana. Kebun tetangganya sepi, dan jalan setapak di depan rumahnya kosong.
Keesokan malamnya, suara itu datang lagi, tapi kali ini terdengar lebih dekat. "Siti... lihat ke sini." Suara itu terdengar dari arah kebun belakang rumah.
Dengan perasaan cemas, Siti memberanikan diri berjalan keluar rumah menuju kebun belakang. Jantungnya berdegup semakin kencang saat ia melihat ke sekitar. Di antara bayangan pepohonan, ia melihat siluet seseorang berdiri di sana. Namun, saat ia mendekat, sosok itu menghilang begitu saja, lenyap dalam kegelapan malam.
Siti terdiam di tempat. "Siapa kau? Apa yang kau mau?" tanyanya dengan suara gemetar, tapi tak ada jawaban.
Hari-hari berikutnya, Siti merasa makin terganggu oleh suara-suara misterius itu. Suara itu selalu memanggil namanya, tapi tak pernah muncul wujudnya. Malam demi malam, Siti mulai kehilangan tidur. Setiap kali ia menutup mata, suara itu terus menggema di kepalanya.
Hingga suatu malam, saat bulan purnama terang benderang, Siti memutuskan untuk menuntaskan misteri itu. Ia duduk di dekat jendela, menunggu suara itu muncul lagi. Udara malam terasa dingin menusuk kulit, dan suasana begitu sunyi hingga Siti bisa mendengar detak jantungnya sendiri.
Lalu, suara itu muncul lagi, lebih lembut dari sebelumnya. "Siti... keluar dan lihat ke arah gunung."
Siti berdiri dengan tangan gemetar. Dengan langkah perlahan, ia membuka pintu rumahnya dan keluar menuju jalan setapak. Matanya tertuju pada gunung yang menjulang di kejauhan, disinari cahaya bulan.
Saat ia menatap ke arah gunung, seberkas cahaya aneh muncul di lerengnya. Cahaya itu bergerak perlahan, seolah memanggilnya untuk mendekat. Tanpa sadar, Siti mulai berjalan ke arah gunung, seakan tubuhnya dikendalikan oleh kekuatan yang tak terlihat.
Semakin dekat ia ke lereng gunung, semakin kuat cahaya itu bersinar. Dan ketika akhirnya ia tiba di sebuah tempat yang tersembunyi di antara pepohonan, ia menemukan sebuah batu besar yang tertutupi lumut tebal.
Di atas batu itu, ada sebuah ukiran kuno yang samar-samar terlihat. Ukiran itu berbentuk simbol-simbol aneh yang tak pernah dilihat Siti sebelumnya. Namun, entah bagaimana, ia merasa ukiran itu memanggilnya. Seolah-olah ada sesuatu yang sangat penting yang tersembunyi di baliknya.
Tiba-tiba, ingatan lama muncul di benaknya. Ia teringat cerita neneknya saat Siti masih kecil. Neneknya sering berbicara tentang legenda desa, tentang tempat tersembunyi di gunung yang menyimpan rahasia besar. Rahasia yang bisa mengubah hidup seseorang.
Dengan perasaan campur aduk antara takut dan penasaran, Siti menyentuh ukiran di batu itu. Begitu tangannya menyentuh permukaan batu, angin berhembus kencang, dan cahaya terang menyelimuti seluruh tempat itu.
Siti terjatuh ke tanah, matanya terpejam karena cahaya yang begitu menyilaukan. Saat ia membuka mata lagi, batu itu sudah tidak ada. Di hadapannya, berdiri sosok seorang perempuan tua yang mengenakan pakaian sederhana, tapi wajahnya memancarkan kebijaksanaan yang mendalam.
"Jangan takut, Siti," kata perempuan tua itu dengan suara lembut. "Aku adalah penjaga rahasia desa ini. Kau telah dipilih untuk menemukan kebenaran yang hilang."
Siti tak bisa berkata-kata. Tubuhnya gemetar, antara takut dan kagum.
"Kau telah mendengar panggilanku, dan sekarang waktunya bagimu untuk mengetahui kebenaran," lanjut perempuan tua itu. "Desa ini telah lama menyimpan rahasia yang hanya bisa ditemukan oleh seseorang yang memiliki hati yang tenang seperti milikmu."
Siti menatap perempuan itu dengan tatapan bingung. "Apa maksudmu? Rahasia apa?"
Perempuan tua itu tersenyum, tapi sebelum ia bisa menjawab, sosoknya perlahan memudar, meninggalkan Siti sendirian di lereng gunung, dengan cahaya bulan sebagai satu-satunya saksi.
Tak ada yang pernah tahu apa yang ditemukan Siti malam itu. Namun sejak malam itu, suara misterius yang selalu memanggil namanya berhenti. Dan setiap kali Siti menatap gunung dari jendela rumahnya, ia tersenyum, seolah telah menemukan sesuatu yang jauh lebih dalam dari sekadar rahasia.
Tapi hanya Siti yang tahu, dan ia memilih untuk tetap diam.

